Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

pelik tanpa peluk

KLIK DULU DISINI   Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri.  Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi. Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang?  Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku.  Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita. Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai. Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saa...

Sepenggal Kisah (bag. 4)

" Rindu Berbuah Temu" Senyumku tersungging diantara keramaian Alun-Alun Kota.Sebuah foto dengan caption manis kuterima. "Semangat hari pertama kerja di tempat yg berbeda, hhe.."  Semoga semangat dariku menambah stamina agar kamu lebih semangat ya. Meski belum bertemu setelah penantian panjang, tapi aku merasa dirimu jauh lebih dekat kini. Aku tak sabar menunggu semesta memberikan kita kesempatan bertemu diantara banyaknya kesibukan. Mungkin kita berjodoh. Belum kering bibir ini berdoa Tuhan sudah mengabulkan doaku saja. Kita sepakat akan bertemu, kita akan mengurai rindu. Ini bagai kencan pertama setelah penantian lama. Ini bagai pertemuan pertama setelah terpisah jarak yang telah binasa. Kamu tahu? Kakiku gemetar, tanganku tak henti-hentinya memainkan ujung baju, aku tak mampu memandangmu. Aku gugup, atau mungkin aku sangat-sangat gugup. Apa aku bermimpi? Lelaki yang biasanya mengabariku  lewat chatt kini sedang menatapku. Lelaki yang s...

terluka

Sepenggal Kisah (bag.3)

"Kepulangan yang Dinantikan" Suatu malam aku dikejutkan satu berita yang kau kabarkan padaku. "aku akan pindah kerja.." katamu, Sontak pikiranku diserang tanya yang begitu cemas, saraf reflekku menggerakan ujung jemari di atas ponselku begitu cepat nya, "kemjkkajana?" "Kewmebaanna?" "Kemana?" Membuat ketikan chatku kacau tak beraturan. "Jauh tidak?" "Lama ataukaj sebentar?" "Jawab heyy,jauh apa tidakk.?" Dari keempat pertanyaan itu hanya satu jawaban yang kamu berikan.. "Rahasia,hehe.." Benar-benar menyebalkan. Apa kamu tidak tahu, aku setakut apa jika harus ditinggalkan ke tempat yang lebih jauh lagi? Apa kamu tidak kasihan aku menanggung rindu ini lebih lama lagi? Aku diam tanpa kata. Tak mau bicara, aku hanya ingin diam. Lalu seperti biasa kamu membujukku agar tak merajuk. "Tidak akan jauh kok, tenang saja.." hiburmu "Beneran ya?" sahutku ...

Telanjang di balik candi berbatik

Husna taufik Husna taufik Husna taufik Husna taufik

Hikmah

Aku percaya setiap kisah yang Tuhan berikan selalu menyimpan sesuatu yang berharga didalamnya Saat kita mendapatkan luka maka selanjutnya kita akan mendapatkan bahagia Saat kita mendapat kecewa maka selanjutnya kita akan menjadi lebih dewasa Saat kita mendapat kehilangan maka selanjutnya Tuhan persiapkan yang terbaik untuk menggantikan Kehidupan itu bagai roda, berputar Layaknya juga perahu Kadang membuat kita merdeka dipermukaan Kadang membuat kita sengsara tenggelam Oleh : VianiRahma

Analogi Senja

November, 2011.  Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa? Pada siapa kita sandarkan bising? Selalu pada hening; pada kosong yang bersemayam dalam ketidakpastian; bukan, mungkin ketidak teraturan. Yang langit melangitlah! Yang bumi membumilah! Pukul 14.30, Jumat. Ada emosi yang menggila antara aku dan perempuan; perempuan di ujung senja. Di depan sebuah layar, memerhatikan perjuangan, keresahan juga sebuah perbatasan. Kami bertatap sekejap, menikmati aroma racun jingga yang mengalir di setiap sela-sela raut wajah yang tumpah. Tidak teratur tetapi indah. Seperti cat air yang berserakan. Ada ikrar yang bertahan sebentar. Dua puluh sembilan hari yang lalu, aku pernah kaku pada bisu. Sebuah perjuangan kasar demi membela yang benar. Ya, mungkin orang-orang bilang radikal. Tapi ini nilai atas apa yang telah dicapai. Tinagkah laku seseorang memang ditentukan oleh keilmuan dan metode berpikirnya. Ada aksi pada diri, pada negeri, pada birokrasi. Sebab ketidaktahuan adalah peninda...

Sepenggal kisah (bag. 2)

Menguji Jarak "Aku rindu" Adalah chatt  yang tak pernah absen aku kirimkan padamu. Lalu tak bosannya kamu terus mengingatkanku untuk terus bersabar. Hm, apa kamu tau? Ketika aku sudah tidak bisa menahan rindu, sehari menunggumu bagaikan beribu-ribu tahun bagiku. Jarak tak hanya menghasilkan tabungan rindu, tapi juga membuatku lebih cengeng. Sedikit-sedikit aku ingin mendengar suaramu, Sedikit-sedikit aku ingin sekali melihatmu, meski hanya memanfaatkan fasilitas video call saja. Dan apa kamu tahu? Semuanya kulakukan sembari menangis dan merengek layaknya anak kecil. Maaf ya, Kadang aku tidak menjadi pengertian ketika terus meminta  dikabari, meski aku tahu kamu sedang sibuk sekali. Aku bahkan sering ngambek saat kamu telat ngasih kabar, padahal aku tahu kamu kerja dari pagi hingga malam. Jarak membuatku sering khawatir berlebih. Tentang pola makanmu, letih dan lelahmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan tak memperdulikan kesehatanku. Jarak tak jarang membuatku t...

Sepenggal Kisah ( bag.1)

Lorong Bahagia Kau bawa cinta pada hati yang terluka. Kau yakinkan hati yang sebelumnya pernah dicampakkan. Kau nampak manis dengat kata-kata bak pujangga. Kau datang sebagai penyembuh pada perasaan yang pernah dibunuh. Kita menjalin ikatan yang selama ini aku damba-dambakan. Bagai pelukan yang menghangatkan, bagai rumah yang selalu menjadi tempat pulang, bagai lentera di malam gelap, bagai penunjuk arah dalam jalan sesat. Begitulah kita menggenapkan yang ganjil, menyempurnakan semua kekurangan. Kurasa, hari-hariku nampak lebih baik ketika aku bersamamu. Senyumku selalu terukir tanpa rasa sedih yang biasanya menghampiriku setiap saat. Kau tau, kau adalah salah satu alasan mengapa aku selalu bersemangat melewati hari-hari meski berat. Melewati segala susah tanpa mengeluh, Meniadakan keluh disaat peluh. Tak ada yang mampu menggantikanmu. Tak ada yang mampu mengalihkan pikiranku darimu. Tak ada yang mampu menyingkirkanmu, bahkan hanya  untuk sekedar singgah sekejap di...

sapa rindu

Mantra penawar

Kepada kau yang memiliki mantra. Katakan dimana obat penawarnya. Aku lelah menerka-nerka. Aku hampir gila dihantui rasa. Macam mana kau bisa masuk begitu saja? Pada hati yang bahkan kuncinya tak tahu dimana. Pada otak yang bahkan sempit tak ada ruang yang tersisa. Beribu kali kuhapus jejakmu. Pada mataku. Pada ruang imajiku. Pada keinginan bersamamu.

Rumit

Puisi S.Y

Tak berbalas

VianiRahma

Kahlil gibran

Betapa celaka bangsa yang tak berani menyampaikan kata-katanya sendiri kecuali bila tengah bergandengan mesra dengan liang kubur. Bangsa yang tak menyimpan kebanggaan Kecuali ketika sedang tengkurep diantara puing-puing reruntuhannya Bangsa yang tidak menggeliat bangkit Kecuali manakala batang lehernya telah dikalungi oleh nata pedang dan tempat pemancungan Celakalah bangsa yang memiliki negarawan berupa seekor serigala Yang memiliki filososf berupa para penipu Dan memiliki karya seni berupa tiru-tiruan Betapa malangnya yang menyambut penguasa barunya dengan mengumandangkan tiupan-tiupan terompet Lalu menangis penuh duka waktu mengucapkan selamat tinggal padanya Tetapi kemudian menyambut penguasa baru penggantinya dengan tiupan-tiupan terompet yang sama Celaka benar bangsa yang hanya memiliki kaum cendikiawan Yang bertahun-tahun tumpul telinganya Dan orang-orang kuatnya masih mengeram dalam kereta-kereta bayi

Guru langit

Viani Rahma

Pagi

wisata alam panorama cikondang wisata alam panorama cikondang