Langsung ke konten utama

Sepenggal Kisah (bag.3)


"Kepulangan yang Dinantikan"


Suatu malam aku dikejutkan satu berita yang kau kabarkan padaku.

"aku akan pindah kerja.." katamu,

Sontak pikiranku diserang tanya yang begitu cemas, saraf reflekku menggerakan ujung jemari di atas ponselku begitu cepat nya,

"kemjkkajana?"
"Kewmebaanna?"
"Kemana?"
Membuat ketikan chatku kacau tak beraturan.

"Jauh tidak?"

"Lama ataukaj sebentar?"

"Jawab heyy,jauh apa tidakk.?"

Dari keempat pertanyaan itu hanya satu jawaban yang kamu berikan..

"Rahasia,hehe.."

Benar-benar menyebalkan. Apa kamu tidak tahu, aku setakut apa jika harus ditinggalkan ke tempat yang lebih jauh lagi? Apa kamu tidak kasihan aku menanggung rindu ini lebih lama lagi?

Aku diam tanpa kata. Tak mau bicara, aku hanya ingin diam. Lalu seperti biasa kamu membujukku agar tak merajuk.

"Tidak akan jauh kok, tenang saja.." hiburmu

"Beneran ya?" sahutku

"Nggak jauh, paling nyebrang ke Ibu Kota baru. Kalimantan..hahaha"

Kamu benar-benar jadi menyebalkan saat itu. Saat seperti itu, aku benar- benar tidak bisa membedakan apakah kamu sedang bercanda atau serius. Aku marah, juga khawatir. Aku hanya ingin diam, mengunci mulutku rapat-rapat.

"Tunggu aku ya. Aku akan pulang. Aku akan bekerja di sekolah lamakku, yang tentu saja akan membuat kita semakin dekat tanpa harus didera rindu berlama-lama.."

Meski aku tidak dihadapanmu saat kamu mengatakan itu, aku yakin, usai ucapkan itu kamu tersenyum.

Mendengar kepulanganmu tentu membuatku senang bukan main. Ini adalah kepulangan yang dinantikan, kepulangan dari seseorang yang didambakan. Tak henti-hentinya aku ternyum membayangkan kepulangan seseorang yg mampu membuatku bertahan dan menahan rindu sejauh ini.

Mungkin ini buah yang dituai dari keberhasilan kita menolak buaian jarak dan segala sesuatu yang membuat kita lalai menjaga ikatan ini.

Aku tak sabar menyambutmu.

Kira-kira cara apa yang pantas saat menyambut kepulangan seseorang yang sangat kita rindukan? Dengan jabatan tangan? dengan pelukan? Atau dengan apa. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Ah aku tak bisa membayangkannya.

Namun, tak hanya haru bahagia yang aku rasa. Setelah muncul rasa yang tak seharusnya ada. Aku hampir kehilangan rasa percayaku padamu. Aku takut kamu tidak menerima kekuranku, meski sebelumnya kamu pernah bilang itu bukan sesuatu yang kamu permasalahkan. Tapi tetap saja aku menjadi takut.



September 2019
Disini aku tetap berdiri.
Menunggumu tanpa ingin pergi.
Bila derap langkahmu mulai kembali.
Temuilah aku yang menunggunu disini.
Hangatkan detik waktu yang mendingin.
Dekaplah dan jangan pernah lepaskan genggaman.




Oleh :VianiRahma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pelik tanpa peluk

KLIK DULU DISINI   Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri.  Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi. Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang?  Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku.  Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita. Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai. Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saa...

Rumit

sapa rindu