Langsung ke konten utama

pelik tanpa peluk


Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri. 

Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi.

Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang? 

Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku. 

Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita.

Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai.

Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saat pertama kali kamu jujur perihal perasaanmu  saat bilang tak ingin kehilanganku. Aku masih ingat cara-cara mu membuatku aku percaya, tertawa, bahagia, membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia dan caramu membangun megah cinta dalam hatiku.

Kamu  terbangkan aku setinggi-tingginya, aku melayang diantara bintang-bintang. Namun taklama kamu ubah rasa bahagiaku. Kamu jatuh kan aku sejatuh-jatuhnya, hingga aku rapuh dan tak mampu bangkit lagi. 

Bagaimana kamu bisa baik-baik saja setelah kita berpisah? Adakah rasa bersalah? Atau mungkin menyesal?

Lihat aku sayang. Ah tidak, maksudku lihat aku mantan kekasihku. Aku menghadapi hari-hari yang pelik ini sendiri, iya tanpa pelukmu lagi. 

Aku seperti kehilangan arah. Bak kapal tanpa nahkoda.

Hari-hariku gelap gulita. Bak kehilangan lentera.

Tanpamu aku hampa. Bak kanvas kehilangan warna-warninya.

Aku dipaksa harus terbiasa tanpamu. Aku dipaksa harus berhenti mencintaimu, merinduimu, dan mengharapkan kedatanganmu.

Kenangan manis yang berakhir miris ini biarlah, biarlah aku coba kubur dalam-dalam.

Aku akan mencoba menghapus jejak sepenggal kisah kita ini. Meski berat dan lukanya akan berkarat tak apa. Bukannya suatu keharusan kita berjalan maju meninggalkan masa lalu, meninggalkan sesuatu yang tak seharusnya kita kenang berlama-lama.

Memang terkadang kita merasa terbuang, tapi mungkin sebenarnya kita terselamatkan. Lebih baik sakit sekarang ketimbang menanggung luka yang tak berkesudahan.

Aku yakin aku bisa ikhlas. Bukannya kita harus mengikhlaskan rasa sakit dan kehilangan agar cepat Tuhan hadirkan kebahagian lain? 

Kapal akan tetap berjalan, nahkoda bukan cuman hanya satu. Gelap gulita akan menjadi terang, lentera bukan satu-satunya alat penerangan.


Seiring berjalannya waktu aku akan terbiasa tanpamu, dan menjalani hari-hariku tanpa mengingatmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumit

sapa rindu