Langsung ke konten utama

Analogi Senja

November, 2011. 
Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Pada siapa kita sandarkan bising?
Selalu pada hening;
pada kosong yang bersemayam dalam ketidakpastian;
bukan, mungkin ketidak teraturan.
Yang langit melangitlah!

Yang bumi membumilah!


Pukul 14.30, Jumat.
Ada emosi yang menggila antara aku dan perempuan; perempuan di ujung senja. Di depan sebuah layar, memerhatikan perjuangan, keresahan juga sebuah perbatasan. Kami bertatap sekejap, menikmati aroma racun jingga yang mengalir di setiap sela-sela raut wajah yang tumpah. Tidak teratur tetapi indah. Seperti cat air yang berserakan. Ada ikrar yang bertahan sebentar.
Dua puluh sembilan hari yang lalu, aku pernah kaku pada bisu. Sebuah perjuangan kasar demi membela yang benar. Ya, mungkin orang-orang bilang radikal. Tapi ini nilai atas apa yang telah dicapai. Tinagkah laku seseorang memang ditentukan oleh keilmuan dan metode berpikirnya. Ada aksi pada diri, pada negeri, pada birokrasi. Sebab ketidaktahuan adalah penindasan, maka kami Lawan! Lawan! Lawan. “Demokrasi bisa mati di negara demokrat dengan cara-cara yang demokratis”. (Mahbub Djunaedi)
Manusia selalu takut pada apa yang tak mereka pahami. Lantas apa yang kita pahami atas hak yang kita punyai. Hak individu dan hak sosial. Hak berpendapat, berpolitik dan hak menikmati hasil kerja sendiri. Mereka membaca. Mereka mengetahui. Mereka kritis. Namun mereka takut. Takut pada hak yang tak mereka pahami. Sebab manusia memang begitu. Takut pada kehilangan. Sebab kita tak begitu dalam memahami kehilangan. 
Politik sejatinya menjaga dan melindungi sesuatu yang berharga untuk kita. Kenapa mesti takut kehilangan jika sesuatu yang berharga untuk kita adalah ikhlas. Pada akhirnya kalian menjauh. Bukan subjek atas sistem demokrasi yang kita anut; kita puja bersama. Dari rakyat? Ya. Oleh rakyat?. ?. Untuk rakyat?. ?. “Di atas politik masih ada kemanusiaan”. (Gusdur)
Pukul 16.30, Jumat.
Senja terkapar antara surya dan purnama. Dimana benci menajdi terasing. Terombang-ambing. Kali ini tidak ada toleransi untuk benci. Sebab kami sedang memahami arti mengasihi. Ya, aku dan perempuan di depan sebuah layar. 
Cinta tidak datang semaunya. Ada tanda yang mengakuinya. Seperti keberadaan waktu. Waktu ada karena ada yang menandainya. Sebuah semiotika yang rumit menurut logika. Kita memang selalu tergesa-gesa; selalu mempersulit diri. Sebab barangkali ini tentang hati.
Juni, 2014.
Apa yang tersisa dari perjuangan dan ketidakpedulian? Kami terlalu dewasa memahami sebuah kata; mungkin sebuah phrasa, kalimat atau bahkan sebuah proposisi. Di penghujung penantian, ada pengkhianatan. Menari-nari di pelataran semesta. Lantas mau kita apakan? Kali ini kemenangan untuk hening. Dominasinya atas bising menciptakan sebuah definisi galau, yaitu resistensi jiwa terhadap realitas. Ini ritme-ritme yang rusak. Melati dari utara semerbak ke selatan. Kita pernah sama-sama gelisah.
Kami kembali bertatap,meratapi usia cinta yang semakin tua. Menelanjangi resah yang untuk kesekian kalinya merasuki setiap penjuru hati. Kami mengerti, maka kami kalah. Aku dengan langitku, dia dengan buminya. Keadaan berkhianat pada janji; bukan kami tapi mereka. Kami berterus terang pada siang, pada malam. Pada perbatasan siang dan malam.
Keterasingan ini pada akhirnya menjadi semu. Ada tangisan pada air mata yang jatuh perlahan, ritmenya memang acak-acakan. Namun selalu ada kepastian dari setiap tetesnya. Ada rindu di setiap rintik hujan. Rindu pada layar, pada tatapan, pada emosi yang menggila, juga pada api di akar daun, sebab kami pernah sama-sama menitipkan kehangatan dalam perspektif yang positif. Konotasinya positif. Begitulah bahasa. Ada yang rumit dalam memahami beberapa makna dari setiap kata. Ya, pada akhirnya kami siram segala rindu, segala api, segala hangat. Kami padamkan! Terpaksa kami kehilangan. Kami pun ketakutan. Kami sama-sama belum dalam memahami ikhlas juga kehilangan. Kami masih tetap padam.
Juli, 2014.
Persoalan perjuangan, kami masih melawan setiap bentuk penindasan. Kami “bernyanyi” bahkan “berpuisi”.
“.............................
...............................
...............................
...............................
Aparat keparat
Birokrat bangsat
Polisi anjing tai kucing”
Begitu kami bernyanyi, tanpa henti. Kami ingin membangun negeri dalam sudut pandang Repressive State Apparatus. Sebab dalam sudut pandang Ideological State Apparatus, kami kalah. Kami jauh tertinggal dari mereka yang membual tentang kebenaran. Kami radikal, kami berakal.

Nyanyian tak beretika. Sudah aku katakan kami kasar. Kata orang-orang, kami radikal. Tapi kami tidak pernah mengeluh. Kamu waras, tapi kamu tidak menyelesaikan persoalan. Lantas katamu kami gila, tapi kami tak pernah mengeluh. Sekali lagi kami tak mau mengeluh. Sebab kesadaran manusia terbagi ke dalam tiga. Magis, naif dan kritis (baca Paulo Freire). Sebab itu pula kami mencoba. Merangkak menuju kesadaran kritis. Dimana diam adalah penindasan. Kami lawan, lawan, lawan.

“Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Membiarkan senja berduka di pelataran semesta
Digerayangi bunga-bunga beracun jingga
Hingga merah, biru. Lalu hitam berkala

Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Air mata yang digenangi debu-debu pilu
Hanya menjadi ritual pembangkangan atas kegelisahan
Antara kegelisahan dan harapan

Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Sementara siang menitipkan terang pada malam
Rembulan tak juga paham
Tak pernah mengerti apa-apa; hanya keraguan

Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Terbelenggu nafsu; tercengkeram perenungan
Seperti amarah yang dilacuri api keresahan
Kita kacau parah!

Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Begitu menikmati sepi; menyepi begitu sunyi
Tak pernah bernyanyi bahkan berpuisi
Membiarkan ketidakpastian berkeliaran dalam kekosongan
Di balik riuh air mata langit yang gemetaran

Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa?
Mengingkari kata yang seharusnya tak terabaikan
“LAWAN”
Kita bukan mayat yang berserakan”

Ada sajak perlawanan, bukan pemberontakan. Begitu bentuk emosi dalam sebuah karya akal dan hati. Karya sastra yang pernah menjadi pedoman hidup manusia. Saat manusia memahami agama sebagai pondasi perebutan tahta, kekuasaan. Agama bukan Tuhan, agama adalah cara bagaimana kita ber-Tuhan. 

Agustus, 2016.

Aku digerayangi tanggung jawab. Sedang ini yang selalu kami teriakan. Sistem pembodohan masal. Instansi-instansi pendidikan, instansi-instansi agama juga media massa. Namun kami berjuang tetap. Melawan malas, melawan diam, melawan penindasan. Sebab sekali lagi, ketidaktahuan adalah penindasan. Maka kami menyebar, supaya tidak kesasar.



November, 2016.
Ada asmara di penghujung senja.





Oleh :Husna Taufik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pelik tanpa peluk

KLIK DULU DISINI   Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri.  Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi. Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang?  Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku.  Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita. Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai. Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saa...

Rumit

sapa rindu