Langsung ke konten utama

Sepenggal kisah (bag. 2)


Menguji Jarak

"Aku rindu"
Adalah chatt  yang tak pernah absen aku kirimkan padamu.
Lalu tak bosannya kamu terus mengingatkanku untuk terus bersabar. Hm, apa kamu tau? Ketika aku sudah tidak bisa menahan rindu, sehari menunggumu bagaikan beribu-ribu tahun bagiku.
Jarak tak hanya menghasilkan tabungan rindu, tapi juga membuatku lebih cengeng. Sedikit-sedikit aku ingin mendengar suaramu, Sedikit-sedikit aku ingin sekali melihatmu, meski hanya memanfaatkan fasilitas video call saja. Dan apa kamu tahu? Semuanya kulakukan sembari menangis dan merengek layaknya anak kecil.
Maaf ya, Kadang aku tidak menjadi pengertian ketika terus meminta  dikabari, meski aku tahu kamu sedang sibuk sekali. Aku bahkan sering ngambek saat kamu telat ngasih kabar, padahal aku tahu kamu kerja dari pagi hingga malam.
Jarak membuatku sering khawatir berlebih. Tentang pola makanmu, letih dan lelahmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan tak memperdulikan kesehatanku.
Jarak tak jarang membuatku terhasut. Aku suka  menjadi takut. Takut jika kamu menemukan seseorang yang lebih dariku, Yang lebih cantik, yang lebih bisa memperhatikanmu, atau seseorang yang benar-benar bisa menggantikanku dihatimu. Aku jadi benar-benar cemas.
"Selamat pagi. Jangan lupa sarapan ya "
Adalah asupan semangat setiap pagiku. Pesan sederhana yang mampu menata moodku menjadi lebih baik.bMembuatku menikmati hari-hari penat dan berat.
"Selamat tidur. Have a nice dream "
Adalah penutup malam, penghantar mimpi, pelukan hangat. Lelah, masalah dan keluh kesah berhasil kamu usaikan. Meski tak mengurangi gelisah rinduku.
Aku tak pernah hampa. Meski jarak berpuluh-puluh kilometer bahkan lebih, menjadi sekat pemisah antara kita. Karena meski begitu kamu senantiasa ada untukku.
Aku selalu menangis ketika aku benar-benar merindukanmu dan tidak tahu harus melakukan apa. Ketika nafasku tersendat menahan isak lalu kamu bertanya "kenapa?" aku selalu bilang tak apa-apa. Bukannya aku gengsi atau malu. aku hanya tidak mau membebanimu sedikitpun karena rindu yang tidak tahu malu ini. Tapi bukan kamu jika tidak mengerti aku. Kamu sudah tahu tanpa aku jawab, kamu tahu aku sedang benar-benar merindukanmu. Sejenak kamu diam tanpa suara, mungkin kamu juga bingung harus melakukan apa. Tapi sekali lagi, bukan kamu jika tidak menemukan cara membuatku kembali tersenyum.
Seperti judul lagunya bang Fiersa Besari "Celengan Rindu". aku setiap hari berharap kita cepat bertemu dan memecahkan celengan rindu yang sudah bertumpuk. Sedikit demi sedikit mengurai rindu meski sebenarnya tidak akan pernah habis.
Meski kerap kali jarak menguji kesabaran, kepercayaan, kesetiaan dan ikatan kita. Tapi semoga itu semua semakin menguatkan dan mengeratkan kita.
Ketika kita menang dari segala ujian jarak, dketika kita berhasil melewati semua tantangan yang ada, maka bukan lagi kita yang diuji jarak. Melainkan kita yang menguji jarak.

Agustus 2019
"Terkadang aku ingin menjadi angin-angin yang bebas mengelus wajahmu.
Menyelinap pada telapak tanganmu.
Merebahkan diri pada bahumu.
Membelai pada saat tidurmu.
Dan jika saat itu bisa terjadi, akupun akan berbisik pada telingamu; Aku rindu padamu."

Oleh : VianiRahma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pelik tanpa peluk

KLIK DULU DISINI   Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri.  Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi. Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang?  Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku.  Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita. Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai. Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saa...

Rumit

sapa rindu