Langsung ke konten utama

Sepenggal Kisah (bag. 4)

"Rindu Berbuah Temu"



Senyumku tersungging diantara keramaian Alun-Alun Kota.Sebuah foto dengan caption manis kuterima.
"Semangat hari pertama kerja di tempat yg berbeda, hhe.." 
Semoga semangat dariku menambah stamina agar kamu lebih semangat ya.
Meski belum bertemu setelah penantian panjang, tapi aku merasa dirimu jauh lebih dekat kini. Aku tak sabar menunggu semesta memberikan kita kesempatan bertemu diantara banyaknya kesibukan.
Mungkin kita berjodoh. Belum kering bibir ini berdoa Tuhan sudah mengabulkan doaku saja. Kita sepakat akan bertemu, kita akan mengurai rindu. Ini bagai kencan pertama setelah penantian lama. Ini bagai pertemuan pertama setelah terpisah jarak yang telah binasa.
Kamu tahu?
Kakiku gemetar, tanganku tak henti-hentinya memainkan ujung baju, aku tak mampu memandangmu. Aku gugup, atau mungkin aku sangat-sangat gugup.
Apa aku bermimpi?
Lelaki yang biasanya mengabariku  lewat chatt kini sedang menatapku.
Lelaki yang suaranya hanya bisa kudengar lewat telepon saja,kini sedang berbicara langsung tanpa perantara.
Lelaki yang wajahnya hanya bisa ku lihat lewat video call saja,kini benar-benar menampakan dirinya.
Rambut yang klimis, kumis tipis, alis tebal, mata sipit juga pupil yang kecoklatan. Dibalut kemeja merah maroon dengan aksen kancing dilengan. Itu semua benar-benar nyata adanya.
Tidak dengan berjabat tangan, tidak juga dengan pelukan. Tidak ada yang aku lakukan untuk menyambut kepulanganmu. Aku hanya terdiam dihadapanmu.
Aku ingin sekali bilang, aku sangat-sangat merindukanmu.Aku rindu,rindu sekali. Namun apalah daya lidah ini kelu membatu. Tak ada yang mampu aku ucapkan,aku diam tanpa ada yang dilakukan.
"Kamu pucat,apa kamu sakit?" pertanyaanmu makin membuatku salah tingkah
Apa aku sepucat itu?
Aku tidak sakit sayang. Aku hanya terlalu bahagia dan gugup bertemu denganmu. Aku juga bingung kenapa,padahal bukannya hal ini yang sudah lama aku tunggu.
"Pesen makan ya,mau makan apa?" katamu,menyodorkan menu makanan 
Ya tuhan,aku akan makan berdua. Apa ini yang dirasakan teman-temanku saat diajak jalan oleh pacarnya.
"Terserah saja" jawabku singkat
Mungkin kamu bingung. Atau mungkin kamu pusing memikirkan aku ini kenapa. Mungkin kamu pikir aku ini sedang jaga image didepanmu, tapi sungguh bukan itu maksudku.Aku hanya malu.
Waktu terasa cepat berlalu saat aku bersamamu. Padahal aku merasa belum puas menatapmu, meski tidak langsung.Iya aku hanya bisa curi-curi pandang.
Hawa dingin sore hari, jalanan cukup ramai,dan kita yang saling diam. Kali ini tak ada yang berani membuka pembicaraan duluan. Padahal jarak kita hanya beberapa centimeter saja dimotor. Apa kamu balas dendam sayang?. Akhirnya aku beranikan diri untuk bicara duluan padamu. Sekedar memecah sepi.
"Nyesel ga?" tanyaku
Kamu diam tanpa jawab. Oh tuhan apa aku salah bertanya.Hey kamu kenapa?
"Menyesal kenapa?" setelah beberapa detik menunggu akhirnya kamu menjawab.
"Aku hanya takut nyesel aja.." 
"Kan aku sudah bilang tidak ada yang aku permasalahkan dari dirimu satupun.."
Jawabanmu kali ini membuatku terdiam. Kali ini lidahku benar-benar kelu. Aku terbungkam,pesimisku padam.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan sosok yang begitu mampu menerimaku. Menghargai kekuranganku,dan tak sedikitpun menuntut dan memaksakan suatu hal.

September 2019
Malam ini sunyi,
kecuali hati.
Dia penuh sesak,sesak dengan yang membuat candu.
Senyummu.
Tawamu.
Matamu.
Suaramu.
Jika kau tanya,aku sebut apa semua ini.
Biar kuperjalas,ini rindu yang takbertepi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pelik tanpa peluk

KLIK DULU DISINI   Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri.  Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi. Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang?  Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku.  Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita. Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai. Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saa...

Rumit

sapa rindu