Langsung ke konten utama

Kahlil gibran

Betapa celaka bangsa yang tak berani menyampaikan kata-katanya sendiri
kecuali bila tengah bergandengan mesra dengan liang kubur.
Bangsa yang tak menyimpan kebanggaan
Kecuali ketika sedang tengkurep diantara puing-puing reruntuhannya
Bangsa yang tidak menggeliat bangkit
Kecuali manakala batang lehernya telah dikalungi oleh nata pedang dan tempat pemancungan

Celakalah bangsa yang memiliki negarawan berupa seekor serigala
Yang memiliki filososf berupa para penipu
Dan memiliki karya seni berupa tiru-tiruan
Betapa malangnya yang menyambut penguasa barunya dengan mengumandangkan tiupan-tiupan terompet
Lalu menangis penuh duka waktu mengucapkan selamat tinggal padanya
Tetapi kemudian menyambut penguasa baru penggantinya dengan tiupan-tiupan terompet yang sama

Celaka benar bangsa yang hanya memiliki kaum cendikiawan
Yang bertahun-tahun tumpul telinganya
Dan orang-orang kuatnya masih mengeram dalam kereta-kereta bayi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pelik tanpa peluk

KLIK DULU DISINI   Tak bisa kuhindari. Hari makin hari aku semakin tersiksa. Tersiksa perasaanku sendiri.  Perasaan yang masih saja takpercaya hati ini telah kau khianati. Perasaan yang masih saja takterima bahwasanya kau telah pergi. Apa mungkin aku telah menjadi bodoh sekarang?  Luka yang kau berikan sudah cukup dalam untuk membuatku benci dan menyimpan dendam. Tapi apa kau tau, tak ada sedikitpun rasa benci dan dendam pada hatiku.  Yang ada hanya harapan agar kamu kembali. Menarik semua ucapan pada malam paling menyedihkan itu. Hari demi hari nyatanya harapanku hanya menjadi sesuatu yang semu saja. Terlalu muluk-muluk memang mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sudah tidak cinta, kembali pada pelukan kita. Kini aku tak mampu membendung air mata. Tak bisa lagi menyembunyikan luka. Tak mampu lagi berpura-pura tegar atas apa yang menimpa ikatan kita. Semuanya telah terurai, kita telah selesai. Kenangan-kenangan masih terputar jelas. Aku masih ingat saa...

Rumit

sapa rindu